Berawal dari Makam dan Gedung yang dilengkapi Genset Silent dari Surabaya

Gedung dan pabrik yang berada di Surabaya bisa mendapatkan harga genser silent yang murah melalui Distributor Jual Genset Surabaya yang bergaransi resmi. Sebelumnya, tak ada yang mengenal seluk beluk sebuah bangunan megah di sudut terpencil Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Pusat. Tersisih dari hingar-bingar ibukota, sebuah bangunan yang kemudian dikenal sebagai musoleum, berdiri kokoh selama berpuluh tahun lamanya, menunggu sosok-sosok peduli yang kelak beraksi.

Musoleum dapat dimaknai sebagai sebuah bangunan megah yang berdiri untuk melindungi makam. Di bawahnya, terbaring dengan tenang O. G. Khouw (1874- 1927) dan istrinya, seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan tebu yang sangat luas. Konon, kemegahan musoleum O.G. Khouw disebut-sebut melebihi makam Rockfeller, seorang milyader asal Amerika Serikat. Bahkan, menurut seorang pakar sejarah sekaligus guru besar Universitas Tarumanegara, Alm.

Wastu Tjong, musoleum ini merupakan musoleum terbesar se-Asia Tenggara. Namun, keberadaan musoleum ini masih terabaikan. Dindingdinding berlapis marmer yang bahkan didatangkan langsung dari Italia sering tak selamat dari aksi mural. Debu-debu yang menempel, genangan air yang memenuhi bunker saat hujan, hingga dijadikan tempat bagi tindakan tak terpuji, menjadi hal-hal yang membuat keadaan musoleum O.G. Khouw jadi memprihatinkan. Perubahan 180 derajat kemudian datang, ketika sejumlah orang yang melabeli dirinya “sekelompok individu peduli”.

Menganggap musoleum ini sebagai peninggalan sejarah yang menarik, meski hingga kini, musoleum O.G. Khow belum dinyatakan sebagai benda cagar budaya. Lahir di Makam Sebelum menyempal menjadi sebuah komunitas sendiri, dulunya, para anggota LOH sering terlibat dalam beberapa perjalanan sejarah bersama dengan komunitas lainnya.

Namun, pertemuan mereka pertama kali dengan musoleum O.G. Khouw mengubah segalanya. Keprihatinan pada kondisi musoleum, membuat mereka mengadakan sebuah event pertama pada 2 Mei 2010, yang kemudian dirayakan sebagai hari jadi berdirinya komunitas LOH. “Nama Love Our Heritage sendiri dicetuskan karena kami ingin sesuatu yang simpel, mudah diingat, dan sesuai dengan visi dan misi kami,” ujar Adjie Hadipriawan, Ketua Dewan Pembina LOH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *