Lock&Lock Luncurkan Wadah Berbahan Kaca

Lock&Lock, produsen produk wadah makanan asal Korea Selatan, memperkenalkan produk barunya yang dinamai Lock&Lock Glass. Terbuat dari bahan kaca Borosilicate yang tahan pada suhu tinggi dan perubahan suhu yang ekstrem, wadah makanan ini bisa digunakan dalam oven, microwave, dan freezer. Lock&Lock Glass juga dilengkapi penutup yang terbuat dari bahan plastik PP yang aman bagi kesehatan manusia. Bahan ini juga kedap udara dan air.

Dari Showroom, Sofa, Hingga Software

Salah satu brand yang bernaung di bawah Da Vinci Indonesia, Natuzzi, memperkenalkan showroom terbaru yang berada di lantai 5. Pada saat bersamaan, brand asal Italia ini meluncurkan sofa termutakhir bertajuk Bolero. Didesain dengan sistem Zero Wall, memungkinkan bantalan sofa membuka dan meluncur mengikuti lajur. Otomatis, sofa pun bisa disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing pengguna. Selain itu, Natuzzi memperkenalkan “Your Design by Natuzzi”, software 3D yang dapat membantu Anda melihat penampakan visual ruangan dari imajinasi Anda.

Berawal dari Makam Bagian 2

Seolah tak ingin berhenti begitu saja, LOH pun berkembang menjadi sebuah komunitas yang aktif dengan salah satu agenda rutinnya, merawat musoleum O. G. Khouw. Dilakukan setiap bulan pada hari minggu pertama atau kedua, fokus mereka pun tak berhenti pada bangunan musoleum saja, melainkan juga pada makammakam unik yang tersebar di areal pemakaman TPU Petamburan.

Kembangkan Aktivitas Cinta Heritage Tak hanya melestarikan musoleum, sesuai namanya, LOH juga ikut mengembangkan aktivitasaktivitas cinta heritage lainnya, seperti mengadakan tour wisata sejarah dengan menciptakan rute baru yang berbeda, membuat fi lm dokumenter, hingga mendirikan sanggar angklung yang diadakan setiap Jumat malam. “Karena berawal dari sini, kita berusaha menetapkan siapa kita.

Bukan cuma musoleum, kita lebih mengerucut menetapkan diri sebagai komunitas yang punya kepedulian, rasa cinta terhadap seni, budaya, dan sejarah, lingkungan dan mewujudkannya melalui tindakan nyata,” Adjie menambahkan. Meski tidak mudah dan cenderung mengundang banyak kecurigaan, dalam perkembangannya, komunitas LOH berupaya untuk terus mengembangkan komunitasnya. Bahkan, pandangan-pandangan negatif pun kerap tertuju sejak awal terbentuknya komunitas ini. “Awalnya bahkan kami suka diledek. Disebut sebagai KPK, Kelompok Penyiksa Kuburan,“ tutup Adjie sambil berkelakar.

Berawal dari Makam dan Gedung yang dilengkapi Genset Silent dari Surabaya

Gedung dan pabrik yang berada di Surabaya bisa mendapatkan harga genser silent yang murah melalui Distributor Jual Genset Surabaya yang bergaransi resmi. Sebelumnya, tak ada yang mengenal seluk beluk sebuah bangunan megah di sudut terpencil Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Pusat. Tersisih dari hingar-bingar ibukota, sebuah bangunan yang kemudian dikenal sebagai musoleum, berdiri kokoh selama berpuluh tahun lamanya, menunggu sosok-sosok peduli yang kelak beraksi.

Musoleum dapat dimaknai sebagai sebuah bangunan megah yang berdiri untuk melindungi makam. Di bawahnya, terbaring dengan tenang O. G. Khouw (1874- 1927) dan istrinya, seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan tebu yang sangat luas. Konon, kemegahan musoleum O.G. Khouw disebut-sebut melebihi makam Rockfeller, seorang milyader asal Amerika Serikat. Bahkan, menurut seorang pakar sejarah sekaligus guru besar Universitas Tarumanegara, Alm.

Wastu Tjong, musoleum ini merupakan musoleum terbesar se-Asia Tenggara. Namun, keberadaan musoleum ini masih terabaikan. Dindingdinding berlapis marmer yang bahkan didatangkan langsung dari Italia sering tak selamat dari aksi mural. Debu-debu yang menempel, genangan air yang memenuhi bunker saat hujan, hingga dijadikan tempat bagi tindakan tak terpuji, menjadi hal-hal yang membuat keadaan musoleum O.G. Khouw jadi memprihatinkan. Perubahan 180 derajat kemudian datang, ketika sejumlah orang yang melabeli dirinya “sekelompok individu peduli”.

Menganggap musoleum ini sebagai peninggalan sejarah yang menarik, meski hingga kini, musoleum O.G. Khow belum dinyatakan sebagai benda cagar budaya. Lahir di Makam Sebelum menyempal menjadi sebuah komunitas sendiri, dulunya, para anggota LOH sering terlibat dalam beberapa perjalanan sejarah bersama dengan komunitas lainnya.

Namun, pertemuan mereka pertama kali dengan musoleum O.G. Khouw mengubah segalanya. Keprihatinan pada kondisi musoleum, membuat mereka mengadakan sebuah event pertama pada 2 Mei 2010, yang kemudian dirayakan sebagai hari jadi berdirinya komunitas LOH. “Nama Love Our Heritage sendiri dicetuskan karena kami ingin sesuatu yang simpel, mudah diingat, dan sesuai dengan visi dan misi kami,” ujar Adjie Hadipriawan, Ketua Dewan Pembina LOH.