KB Pil Aman Diminum Jangka Panjang

Mama pun dapat segera subur kembali setelah IUD dilepas oleh dokter. Jadi selama Mama merasa cocok dan tak menimbulkan efek samping, IUD dapat terus dipakai. Beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan IUD adalah kram, sedikit rasa mulas (nyeri perut bagian bawah), kadang-kadang ada spoting (bercak darah) atau lendir vagina yang agak banyak (keputihan), siklus menstruasi tak teratur. Satu efek samping yang tak boleh diabaikan adalah perdarahan yang berlangsung terus-menerus dalam jumlah banyak. Pada kasus ini pemakaian IUD harus dihentikan.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

KB Pil Aman Diminum Jangka Panjang

Pilihan lain alat kontrasepsi modern adalah pil dan suntik. Pil secara efektif dapat mencegah kehamilan bila di minum teratur. Pil KB ini aman diminum dalam jangka panjang selamabertahun-tahun. Adapun jenis pil KB, yaitu: pil kombinasi/gabungan (mikropil ) berisi dua hormon yaitu estrogen dan progesteron, serta pil mini/khusus (minipil) yang hanya me ngandung hormon progesteron.

Menurut Badan kesehatan dunia (WHO), Mama yang menyusui secara eksklusif disarankan menggunakan alat kontrasepsi yang mengandung hormon turunan progesteron. Pil kontrasepsi yang mengandung estrogen atau kombinasi tidak direkomendasikan untuk mama menyusui karena dapat mengurangi produksi ASI. Pilih pil atau KB suntik yang hanya mengandung progesteron. Kembali pada kontrasepsi pil, kontrasepsi jenis ini aman selama tidak digunakan oleh penderita hipertensi, gangguan jantung, varises, kencing manis, penderita sesak napas, eksem, migren, radang pembuluh darah, pembesaran kelenjar gondok, kanker payudara/kandungan.

Mengenai efek samping yang mungkin terjadi adalah mual, jerawat, nyeri kepala, perdarahan di luar haid, bercak hitam di pipi (hiperpigmentasi), penyakit jamur pada liang vagina (candidiasis), dan berat badan bertambah. Mama Wiwik Prasetya meng alami efek samping yang disebut terakhir, “Setelah kelahiran anak pertama, saya pakai KB suntik 3 bulan sekali, tetapi badan jadi gemuk. Pas anak kedua, pakai KB kalender. Alhamdulillah , enggak gemuk tapi malah kebobolan. Jadilah anak yang ketiga langsung KB IUD, soalnya tiga anak sudah cukup buat saya.”

Mewaspadai Meningitis Pada Bayi

Apakah meningitis itu? Meningitis adalah peradangan pada selaput otak dan jaringan otak yang menyebabkan terkumpulnya atau keluarnya cairan di otak. Artikel ini tentu bukan untuk menakut-nakuti, hanya semata sebagai informasi untuk mengajak kita selalu waspada akan gejala penyakit yang bisa berakibat fatal bila tidak ditangani dini ini. Perlu diketahui, meningitis dapat terjadi, bahkan pada bayi yang baru dilahir kan (neonatal).

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Mengenai ka tegorinya, meningitis terbagi berdasarkan cairan yang dikeluarkan. Pertama, meningitis purulenta atau meningitis bakterialis, cairan yang dikeluarkan adalah pus (purulen) atau nanah yang disebabkan kuman non-spesifi k dan non-virus. Meningitis bakteralis inilah yang paling sering terjadi pada bayi. Yang kedua, meningitis serosa, cairan yang keluar berwarna jernih atau seros. Bedanya dengan meningitis purulenta , dari hasil pemeriksaan lab, pada meningitis serosa akan tampak jumlah sel dan jumlah protein yang meningkat .

Bayi-bayi yang memiliki risiko terkena meningitis antara lain bayi yang sering mengalami infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran telinga tengah atau bayi yang mengalami peradangan pada tulang mastoid (terletak tepat di belakang telinga luar), bayi yang mengalami cedera kepala (karena jatuh), serta bayi yang mengalami kelainan pembekuan darah. Bayi-bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi HIV juga mempunyai risiko karena mereka umumnya memiliki daya tahan tubuh yang rendah.

Bagaimana tandanya? Tanda-tanda meningitis adalah: ¦ Panas mendadak tanpa sebab jelas. Biasanya bayi akan tampak rewel, padahal ia sudah kenyang dan popoknya tidak basah. ¦ Muntah atau muntah saat disusui. ¦ Ada gangguan pernapasan (napas bayi terdengar tidak teratur, tersengalsengal, berat, dan cepat). ¦ Pada keadaan ekstrem, bayi mengalami kejang. ¦ Bayi dengan kesadaran yang terus menurun, grade-nya dari sekadar apatis sampai koma.

¦ Bayi-bayi yang sudah berusia 1 bulan ditemukan kaku kuduk (didapat de ngan pemeriksaan neurologi). Begitu ada gejala-gejala tersebut (setidaknya poin 1–5), bayi sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan neurologis dan beberapa pemeriksaan penunjang lain. Begitu terdeteksi positif meningitis dan jenis cairannya (purulenta ataukah serosa) sudah diketahui, bayi akan mendapat penanganan medis berupa pemberian obat antimikrob. Untuk tindakan medis lainnya akan disesuaikan de ngan kondisi pasien.

Sumber : pascal-edu.com