Bukan Interiornya Saja

Kita sudah melihat kenyamanan dan keunikan desain rumah ini. Namun, ternyata ada faktor lain yang membuat rumah ini terasa lebih “hijau” dan alami, yaitu sirkulasi udara yang baik dan hemat listrik. Rumah dua lantai ini memiliki jendela yang berukuran cukup lebar di beberapa bagian, sehingga sirkulasi udara dalam rumah menjadi lancar. Suasana rumah pun tidak panas dan pengap walaupun tanpa pendingin udara.

Melalui jendela itu pula cahaya matahari dapat masuk dengan bebas, menerangi setiap ruang di dalam rumah. Mungkin, inilah salah satu contoh rumah “hijau” yang bisa menjadi inspirasi Anda. Karena rumah “hijau” bukan hanya interiornya, tapi juga peduli terhadap lingkungan. Jika Anda ingin menciptakan suasana alami di rumah, lukisan yang mengandung unsur alam seperti pohon dapat digunakan untuk menghiasi dinding. Tekstur wallpaper juga bisa diselaraskan dengan lukisan yang hendak Anda gunakan. Contohnya seperti pada gambar ini, wallpaper membentuk ukiran yang mirip dengan ranting pohon di lukisan.

Ranting Sebagai Interior dan Genset Sebagai Sumber listrik Alternatif

Ranting Sebagai Interior dan Genset Sebagai Sumber listrik Alternatif ketika listrik pada. Harga genset yang murah bisa didapatkan melalui Distributor Jual genset Bali yang memberikan potongan harga serta garansi resmi.

Ranting tak melulu ada di taman. Ranting bisa juga dipakai sebagai pemanis interior, seperti di rumah ini. Rumah merupakan tempat perhentian terakhir kita setiap hari. Usai beraktivitas seharian, menghadapi berbagai kesibukan, paling enak pulang ke rumah dengan suasana yang nyaman dan menenangkan. Kalau sudah didesain dengan nyaman, dijamin bikin rasanya kepingin cepat kembali ke rumah.

Di kawasan kota Cilegon ini, berdiri sebuah rumah yang mencoba mendekatkan diri ke alam. Mulai dari segi desain, warna, hingga pernak-pernik hiasannya tampak begitu menyatu. Setiap elemen itu saling mendukung satu sama lain untuk menciptakan suasana yang menenangkan. Ada Ranting di Mana-mana Salah satu tujuan dari konsep “alam” di rumah ini ialah untuk menciptakan suasana yang membuat orang merasa nyaman ketika kembali ke rumah.

“Jadi setelah orang pulang ke rumah, nuansanya sudah beda,” ucap Yusanto Hariyanto, Associate Director Ciputra, pengembang perumahan ini Pertama kali memasuki rumah ini, kita akan disambut dengan ruang tamu bernuansa cokelat. Mulai dari dinding, lampu gantung, meja, bantal, maupun karpetnya. Warna cokelat memiliki sifat alami, sejuk dan menenangkan, sehingga ketika orang masuk ke rumah ini akan merasakan atmosfer yang berbeda dengan di luar.

Nyaman dan menenangkan. Bagian paling penting dan unik yang membuat rumah ini tidak tampak mainstream adalah bentuk ranting-ranting pohon yang menghiasi beberapa sudut rumah ini. Sekarang coba perhatikan partisi berwarna putih yang berada di belakang sofa ruang tamu. Itu adalah pola ranting pertama yang akan Anda temui ketika baru memasuki rumah ini.

Partisi unik itu membentuk pola menyerupai batang dan ranting tanaman, untuk memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga. Pola bentuk ranting itu juga diterapkan pada dinding ruang keluarga. Tapi warna yang digunakan berbeda. Dengan menggunakan warna cokelat, pola ranting tersebut tampak lebih senada dengan dinding ruang tamu di sebelahnya.

Sedangkan warna putih pada partisi digunakan supaya tampak lebih menonjol sebagai pembatas ruang. Jika Anda masuk ke kamar tidur utama, jangan kaget jika menemukan pola ranting yang sama pada dindingnya. Karena memang “banyak ranting di rumahku.” Namun, di kamar tidur utama ini, pola ranting hanya digunakan pada sisi kanan dan kiri tempat tidur. Ya, memang tidak satu bidang dinding penuh. Supaya nuansanya masih terkesan simpel dan elegan, tapi tetap “alami”.

Berawal dari Makam Bagian 2

Seolah tak ingin berhenti begitu saja, LOH pun berkembang menjadi sebuah komunitas yang aktif dengan salah satu agenda rutinnya, merawat musoleum O. G. Khouw. Dilakukan setiap bulan pada hari minggu pertama atau kedua, fokus mereka pun tak berhenti pada bangunan musoleum saja, melainkan juga pada makammakam unik yang tersebar di areal pemakaman TPU Petamburan.

Kembangkan Aktivitas Cinta Heritage Tak hanya melestarikan musoleum, sesuai namanya, LOH juga ikut mengembangkan aktivitasaktivitas cinta heritage lainnya, seperti mengadakan tour wisata sejarah dengan menciptakan rute baru yang berbeda, membuat fi lm dokumenter, hingga mendirikan sanggar angklung yang diadakan setiap Jumat malam. “Karena berawal dari sini, kita berusaha menetapkan siapa kita.

Bukan cuma musoleum, kita lebih mengerucut menetapkan diri sebagai komunitas yang punya kepedulian, rasa cinta terhadap seni, budaya, dan sejarah, lingkungan dan mewujudkannya melalui tindakan nyata,” Adjie menambahkan. Meski tidak mudah dan cenderung mengundang banyak kecurigaan, dalam perkembangannya, komunitas LOH berupaya untuk terus mengembangkan komunitasnya. Bahkan, pandangan-pandangan negatif pun kerap tertuju sejak awal terbentuknya komunitas ini. “Awalnya bahkan kami suka diledek. Disebut sebagai KPK, Kelompok Penyiksa Kuburan,“ tutup Adjie sambil berkelakar.

Berawal dari Makam dan Gedung yang dilengkapi Genset Silent dari Surabaya

Gedung dan pabrik yang berada di Surabaya bisa mendapatkan harga genser silent yang murah melalui Distributor Jual Genset Surabaya yang bergaransi resmi. Sebelumnya, tak ada yang mengenal seluk beluk sebuah bangunan megah di sudut terpencil Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Pusat. Tersisih dari hingar-bingar ibukota, sebuah bangunan yang kemudian dikenal sebagai musoleum, berdiri kokoh selama berpuluh tahun lamanya, menunggu sosok-sosok peduli yang kelak beraksi.

Musoleum dapat dimaknai sebagai sebuah bangunan megah yang berdiri untuk melindungi makam. Di bawahnya, terbaring dengan tenang O. G. Khouw (1874- 1927) dan istrinya, seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan tebu yang sangat luas. Konon, kemegahan musoleum O.G. Khouw disebut-sebut melebihi makam Rockfeller, seorang milyader asal Amerika Serikat. Bahkan, menurut seorang pakar sejarah sekaligus guru besar Universitas Tarumanegara, Alm.

Wastu Tjong, musoleum ini merupakan musoleum terbesar se-Asia Tenggara. Namun, keberadaan musoleum ini masih terabaikan. Dindingdinding berlapis marmer yang bahkan didatangkan langsung dari Italia sering tak selamat dari aksi mural. Debu-debu yang menempel, genangan air yang memenuhi bunker saat hujan, hingga dijadikan tempat bagi tindakan tak terpuji, menjadi hal-hal yang membuat keadaan musoleum O.G. Khouw jadi memprihatinkan. Perubahan 180 derajat kemudian datang, ketika sejumlah orang yang melabeli dirinya “sekelompok individu peduli”.

Menganggap musoleum ini sebagai peninggalan sejarah yang menarik, meski hingga kini, musoleum O.G. Khow belum dinyatakan sebagai benda cagar budaya. Lahir di Makam Sebelum menyempal menjadi sebuah komunitas sendiri, dulunya, para anggota LOH sering terlibat dalam beberapa perjalanan sejarah bersama dengan komunitas lainnya.

Namun, pertemuan mereka pertama kali dengan musoleum O.G. Khouw mengubah segalanya. Keprihatinan pada kondisi musoleum, membuat mereka mengadakan sebuah event pertama pada 2 Mei 2010, yang kemudian dirayakan sebagai hari jadi berdirinya komunitas LOH. “Nama Love Our Heritage sendiri dicetuskan karena kami ingin sesuatu yang simpel, mudah diingat, dan sesuai dengan visi dan misi kami,” ujar Adjie Hadipriawan, Ketua Dewan Pembina LOH.

Sup Asam Pedas UNTUK 5 PORSI

BAHAN: 200 gram ayam dada fillet, diiris panjang 3 cm tipis-tipis 1/2 buah bawang bombay, dicincang halus 2 siung bawang putih, dicincang halus 1 cm jahe, dimemarkan 2 buah cabai merah besar, dibuang bijinya dan diiris halus 3 lembar jamur hioko, direndam air hangat dan diiris halus 100 gram tahu, dipotong kotak 1/2 sendok makan kecap asin 2 sendok makan saus sambal 8 sendok makan saus tomat 2 sendok teh garam 1 sendok teh gula pasir 1.000 ml air 1 sendok teh minyak wijen 1 batang daun bawang, dipotong miring 2 sendok makan tepung sagu dilarutkan 2 sendok makan air 1 butir telur, dikocok lepas 1 sendok makan minyak untuk menumis

CARA MEMBUAT: 1. Panaskan minyak. Tumis bawang bombay, bawang putih, jahe, dan cabai merah sampai harum. Masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna. 2. Tambahkan jamur. Aduk rata. Masukkan kecap asin, saus sambal, saus tomat, garam, dan gula pasir. Aduk rata. 3. Tambahkan air. Masak sambil diaduk sampai mendidih. Masukkan tahu, minyak wijen dan daun bawang. Aduk rata. 4. Tambahkan larutan tepung sagu. Masak sambil diaduk sampai kental dan meletup letup. 5. Tambahkan telur sedikit sedikit sambil diaduk sampai berserabut.

Memperbaiki Plafon Melendut dan Melengkapi Rumah dengan Genset

Selain memperbaiki plafon yang rusak atau bermasalah, alangkah baiknya jika rumah dilengkapi dengan genset untuk sumber listrik cadangan. Harga genset murah bisa dibeli dari agen Jual Genset Jakarta yang resmi dan memberikan diskon serta garansi resmi.

Plafon di rumah saya melendut. Itu kenapa, ya? Saya agak khawatir juga, takut kejatuhan plafon. Apakah harus dibongkar total atau bagaimana?

Solusi Ahli Plafon melendut itu disebabkan banyak faktor. Pertama, rangka plafonnya bermasalah. Misal, untuk rangka kayu dulunya menggunakan kayu muda. Lambat laun, kondisi air di dalam kayu mengering sehingga rangka kayu meliuk dan terlihat melendut di bawah. Atau rangka kayu terkena rayap, jadi keropos dan mematahkan salah satu rangka hingga terlihat melendut. Kedua, Anda menaruh beban berlebih di plafon, seperti menambah lampu gantung. Solusinya, jika penyebabnya rangka kayu, kemungkinan harus dibongkar total. Tetapi, jika masalah beban, sesegera mungkin Anda harus melepas beban itu dan memperbaiki rangkanya. Intinya, harus tahu sumber masalahnya dulu.

Solusi Sahabat Rumah Saya juga pernah mengalami masalah ini. Waktu itu, selain melendut, ada bunyi “bletak-bletak”. Ternyata, asalnya bunyi itu dari kayu muda yang mengering dan patah di plafon. Akhirnya sih harus dibongkar karena katanya enggak ada solusi lain. Saya ngeri juga, itu kan posisinya di atas kepala. Jadi, saya dan suami memutuskan langsung ganti ke rangka besi hollow.

Meminimalisasi Warna Nat

Saya mau tanya, warna nat di plafon rumah saya kok terlihat sekali, ya? Seperti garis-garis dan enggak bagus dilihatnya. Bagaimana cara mengatasinya, ya?

Solusi Ahli Ada kemungkinan Anda salah membeli warna nat untuk plafon. Di pasaran, warna nat untuk plafon sangat beragam. Ada yang putih, abu-abu putih, abu-abu, dan abu-abu gelap. Harusnya, warna nat ini sama dengan warna plafon. Tetapi, karena kondisinya sudah terpasang, tidak mungkin diulang lagi. Cara meminimalisasi warna nat, coba Anda menutup seluruh permukaan plafon dengan plamir tembok. Kemudian, Anda cat ulang plafon sesuai dengan warna yang diinginkan. Biarkan kering dan cat ulang lagi agar batas antara nat dan plafon benar-benar hilang. Solusi dari sahabat ; Kalau saya, plafon dicat terus. Setelah 4 kali pengecatan, tertutup juga.