Proses Penjurian Film Bagian 2

Menurut Anggi, masa-masa di Pontianak merupakan fase yang krusial bagi Thukul. ”Secara psikologis, Wiji Thukul dicap sebagai tersangka setelah peristiwa 27 Juli,” ujarnya. ”Pada periode ini, suasana emosi Thukul paling kompleks.” Wiji Thukul lahir di Solo pada 26 Agustus 1963. Thukul lahir dari keluarga penarik becak. Ia berhenti sekolah untuk bekerja menjadi tukang pelitur agar adikadiknya bisa melanjutkan sekolah. Ia sendiri menggelandang, mendirikan teater, mengamen puisi ke kampung dan kotakota, lalu menabalkan diri sebagai aktivis pembela buruh.

Namanya ada di barisan demonstran Kedung Ombo, Sritex, dan sejumlah demonstrasi besar di Solo. Setelah masuk Partai Rakyat Demokratik (PRD), ia hijrah ke Jakarta menjelang reformasi 1998. Ia hilang tak tentu rimba. Hingga kini. Ya, Thukul tak pernah kembali. Ia cadel—tak bisa melafalkan huruf ”r” dengan sempurna. Badannya ceking. Rambutnya lusuh dan awut-awutan. Pakaiannya kumal. Ia bukan burung merak yang tampan dan mempesona di atas panggung. Tapi, bila penyair ini membacakan puisi dan berorasi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap agitator. Penghasut.

Dan dia dianggap berbahaya. Kegiatannya mendidik anak-anak kampung dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia harus dibungkam. Dilenyapkan. Awalnya adalah prahara penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, 27 Juli 1996. Sejumlah orang dinyatakan tewas, terluka, dan raib dalam kerusuhan sosial-politik itu. Kepala Staf Bidang Sosial dan Politik ABRI Letjen Syarwan Hamid menyiarkan kabar bahwa PRD pimpinan Budiman Sudjatmiko berada di belakang peristiwa itu. PRD dan semua organisasi yang bertalian dengannya dinyatakan terlarang. Sejak itu, para aktivis PRD kocar-kacir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *