Terpukau Media Layar, Bikin Konsentrasi Kacau Bag4

Hasilnya, ketika mereka menginjak usia 7 tahun, sebanyak 10% anak menunjukkan gejala yang serupa dengan anak-anak yang didiagnosis ADHD (AttentionDefi cit and Hyperactive Disorder). Kesimpulannya, semakin lama jam menonton teve pada saat anak berusia 1—3 tahun, semakin besar peluang anak tersebut mengalami masalah atensi saat usia sekolahnya (usia 7 tahun).

Baca juga : Kerja di Jerman

Hasil studi tersebut sejalan dengan studi yang dilaksanakan di New Zealand. Sebanyak 1.037 anak berusia 5 tahun diikuti perkembangannya hingga mencapai usia 11 tahun. Hasilnya, anak-anak yang terlalu lama menonton teve mengalami gangguan atensi ketika mereka berusia dewasa. Sebab pasti mengapa teve dapat menganggu atensi belum ditemukan. Ada beberapa dugaan terkait pergantian gambar yang terlalu cepat sehingga membuat anak menjadi cepat bosan ketika dihadapkan kepada sesuatu yang tidak bergerak secepat gambar teve.

Misal, saat membaca buku, anak harus fokus pada halaman yang sama untuk beberapa saat. Bandingkan dengan fi lm animasi yang memiliki pergantian gambar sebanyak 24 kali dalam 1 detik. Bagaimana agar anak tidak terlalu “mengagung-agungkan” teve? Hal yang disarankan adalah tidak mengenalkan sama sekali media layar (teve, gawai, komputer, laptop, tablet) bagi anak di bawah 2 tahun. Kemudian untuk prasekolah, batasi akses ke media layar, maksimal 2 jam per hari terlepas dari betapa bagusnya program edukasi yang ada di media layar tersebut.

Tapi kalau tidak menonton teve dan bermain gawai, adakah aktivitas yang mampu membuat anak-anak fokus pada sesuatu tetapi sekaligus memberi manfaat? Jawabnya, ada! Yaitu menyediakan pojok bermain bagi anak yang akan diulas di artikel berikutnya. Netty mengakui Fajar, anaknya yang berusia 5 tahun, kecanduan nonton teve. Mana yang ditonton fi lm India lagi! Ternyata tontonan itu mengikuti selera neneknya. Anak-anak batita yang menonton teve selama 3,6 jam per hari, saat menginjak usia 7 tahun, sebanyak 10% anak, menunjukkan gejala serupa dengan anak-anak yang didiagnosis ADHD.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *